Diskusi Berita Mengenai Banjir dan Polusi Udara

Hai...
Kali ini kita akan membahas mengenai  artikel mengenai banjir bandang yang diambil dari website Kompas.com dan berita polusi udara yang diambil dari kompasberita.com

Petunjuk
1. Membaca petunjuk
2. Membaca berita secara keseluruhan
3. Membuat artikel dengan pedoman yang tertera di bawah berita ini
4. Artikel di-posting ke dalam blog masing-masing siswa 
5. Setelah Di-posting kirimkan link artikel ke email guru


MINAHASA TENGGARA, KOMPAS.com - Bupati Minahasa Tenggara (Mitra) mengakui bahwa banjir bandang yang melanda beberapa desa di Kecamatan Ratahan akibat dari perambahan hutan yang terjadi di daerah bagian gunung.

"Ilegal logging kemungkinan besar menjadi penyebab terjadi banjir bandang yang besar seperti ini," ujar Sumendap ketika meninjau lokasi bencana, Jumat (6/12/2013) sore tadi. Sumendap berjanji akan menindak tegas pelaku perambah hutan dan illegal logging.

Banjir bandang yang terjadi pada Kamis (5/12/2013) kemarin sore itu telah menyebabkan puluhan rumah warga rusak dan puluhan hektar sawah juga terendam lumpur tebal yang terbawa banjir. Tidak hanya itu, banjir yang terjadi tiba-tiba itu juga membawa kayu-kayu gelondongan berukuran besar dan menghantam rumah warga di tepi sungai.

"Saya sudah puluhan tahun tinggal di situ. Memang air sering naik kalau hujan datang, tetapi tidak seperti ini," ujar Joice Antow, warga Desa Lowu 1, yang dua rumahnya rata dengan tanah.

Seorang warga lainnya, Yonas Roros juga membenarkan, banjir bandang yang menerjang wilayah mereka merupakan terbesar sejak 12 tahun terakhir. "Biasanya, ada siklus enam tahunan, tetapi baru kali ini banjir datang dengan lumpur yang tebal dan kayu-kayu," kata Yonas.

Dari informasi yang dihimpun Kompas.com, banjir bandang tersebut merupakan longsoran yang terjadi di wilayah gunung Tamporo. Di daerah itu, perambahan hutan sering terjadi. Diduga saat hujan lebat kemarin, tanah di lereng gunung Tamporo tidak bisa lagi menahan beban air, sehingga longsor dan menuju ke arah sungai. Longsoran itu kemudian membawa tanah dan lumpur tebal serta ribuan kayu berbagai ukuran yang kemudian merusak rumah warga di tepi sungai.

Banjir kiriman juga dirasakan warga di Kecamatan Molompar. Dilaporkan, ada sekitar 80 rumah warga di kecamatan itu terendam air setinggi lutut orang dewasa. Kini, pemerintah Kabupaten Mitra sudah mengerahkan berbagai alat berat ke lokasi bencana terutama di lima desa yang ada di Ratahan untuk membantu warga menyingkirkan lumpur dan kayu-kayu besar di bekas terjangan banjir.

"Walau kami belum menghitung secara pasti berapa kerugian akibat banjir ini, namun diperkirakan melebihi Rp 20 miliar," ujar Sumendap.




 Pencemaran Udara Kota Bekasi di Ambang Batas



BEKASI – Tingkat pencemaran udara di Kota Bekasi sudah masuk dalam tahap mengkhawatirkan. Diperkirakan, pencemaran udara itu akan semakin parah karena jumlah kendaraan terus bertambah.
Menurut hasil pemeriksaan laboratorium Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi 2010, polusi udara sudah di ambang batas yakni 30.861 µ gram per m3. Sementara ambang batasnya hanya 30.000 µ gram per m3.

Artinya, kandungan karbonmonoksida (CO) yang ada di udara Kota Bekasi sudah di ambang batas. Sedangkan NO2 dan CO2 masih di bawah ambang batas, yakni 400 µ gram per m3 dan 900 µ gram per m3.

Demikian diungkapkan Kepala BPLH Kota Bekasi, Dadang Hidayat, dan Kepala Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Air dan Udara, Zaenal Abidin, kepada SH, Senin (17/10). Pencemaran itu, ungkap Zaenal, akibat asap dari bahan bakar kendaraan, di mana bahan bakar kandungan sulfur yang terlalu tinggi.

Menurut Zaenal, saat ini BPLH Kota Bekasi, sedang memeriksa pencemaran udara di 20 titik. Adapun lokasi pemeriksaan beberapa di antaranya berada di jalan raya.

“Paling parah pencemaran udaranya pada 2010 terdapat di perempatan Kampung Rawapanjang, yakni pertemuan antara Jl Raya Ahmad Yani, Jl Cut Mutiah, Jl RA Kartini, dan Jl Siliwangi Narogong,” kata dia.

Menurut Zaenal, pencemaran yang tinggi di lokasi itu, karena adanya penumpukan kendaraan.
Selain di perempatan Rawapanjang, lokasi yang saat ini menjadi titik pemeriksaan pencemaran udara di Terminal Bus Bekasi, Jl Sudirman seputar Kranji Bekasi Barat, seputar perempatan Bulak Kapal Kecamatan Bekasi Timur, termasuk di beberapa jalan raya yang lalu lintasnya sangat padat.
Ketika ditanya mengenai upaya untuk mengatasi pencemaran udara, Dadang dan Zaenal mengaku pihaknya sebagai BPLH hanya sebatas melakukan penelitian. Upaya untuk menekan pencemaran udara adalah dengan melakukan uji emisi kendaraan.





Petunjuk review
Setelah membaca berita di atas, apa kaitannya antara berita tersebut dengan materi yang sedang kita pelajari yaitu struktur dan fungsi jaringan tumbuhan?

Berikut ini pertanyaan yang dapat menjadi acuan tulisan kalian

  1. Mengapa perambahan hutan dapat mengakibatkan banjir?
  2. Bagaimana solusi untuk mencegah terjadinya banjir sesuai dengan permasalahan di atas?
  3. Bagaimana solusi mengurangi populasi udara berkaitan dengan materi yang sedang kita pelajari? Jelaskan!
Artikel ditulis  minimal 150 kata dengan menggunakan bahasa kalian sendiri

0 komentar:

Posting Komentar